Di penghujung tahun 2025, fenomena cuaca ekstrem menimbulkan dampak besar pada industri penerbangan di kawasan Asia Tenggara. Pada periode libur tahun baru, ratusan penumpang mengalami frustrasi akibat pembatalan dan penundaan penerbangan yang berkepanjangan.
Melihat keadaan tersebut, media sosial dipenuhi dengan keluhan dari para penumpang yang terjebak dalam situasi yang tidak mengenakkan ini. Dengan lebih dari 60 penerbangan dibatalkan dalam sehari pada 29 Desember 2025, jelas bahwa masalah ini tidak bisa diabaikan.
Pembatalan tersebut terjadi di berbagai negara termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Hong Kong. Situasi ini semakin diperburuk oleh cuaca buruk yang memang sering terjadi pada musim ini, menyebabkan para maskapai terpaksa menyesuaikan jadwal penerbangan.
Di tanah air, Jakarta, Bali, Surabaya, dan Makassar menjadi titik-titik yang paling terdampak. Sebagian besar pembatalan dan penundaan penerbangan ini diakibatkan oleh hujan lebat yang mengurangi jarak pandang dan menghambat sistem lalu lintas udara.
Pola monsun yang tiba tepat di akhir tahun membuat situasi menjadi semakin sulit. Banjir dan badai konvektif yang terjadi di sejumlah daerah tidak hanya mempengaruhi penerbangan domestik tetapi juga rute internasional.
Penyebab Pembatalan Penerbangan yang Meningkat pada Akhir Tahun
Pembatalan penerbangan dapat terjadi karena banyak faktor. Namun, di akhir tahun 2025, dua penyebab utama adalah cuaca ekstrem dan gangguan sistem transportasi.
Hujan lebat yang turun secara terus-menerus adalah masalah serius yang harus dihadapi oleh banyak maskapai. Sementara badai konvektif menambah risiko, membuat jadwal penerbangan menjadi sulit untuk dipatuhi.
Di Malaysia, gangguan ini terlihat khususnya pada penerbangan domestik yang menghubungkan semenanjung dengan Sabah dan Sarawak. Pembatalan yang terjadi tidak hanya memengaruhi rute jarak jauh, tetapi juga penerbangan regional yang menghubungkan berbagai bandar udara kecil.
Perjalanan terganggu dan membuat banyak penumpang harus beradaptasi dengan rute alternatif. Penumpang sering kali harus menunggu berjam-jam di bandara sambil berharap penerbangan mereka segera diberangkatkan.
Hal ini menimbulkan resiko lebih besar bagi penumpang yang tidak memiliki akomodasi. Beberapa bahkan terpaksa menginap semalam di bandara penghubung, menambah ketidaknyamanan di saat liburan.
Dampak Cuaca Ekstrem terhadap Layanan Penerbangan
Saat cuaca buruk melanda, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penumpang, tetapi juga oleh maskapai penerbangan. Banyak maskapai yang terpaksa menangguhkan penerbangan demi keselamatan penumpang.
Pembatalan ini menuntut komitmen tinggi dari maskapai untuk mengatur ulang jadwal dan menjamin keamanan. Namun, ketidakpastian tetap menjadi tantangan besar di lapangan ketika cuaca berubah dengan cepat.
Perlu dicatat bahwa pada musim ini, bukan hanya Indonesia tetapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina merasakan efek yang sama. Gangguan disebabkan oleh sistem cuaca yang tidak terduga menjadi tantangan global bagi industri penerbangan.
Ketikasituasi ini berlanjut, keandalan maskapai penerbangan juga dipertanyakan. Penumpang kini lebih berhati-hati dalam memilih maskapai yang dapat diandalkan selama musim liburan ini.
Krisis ini menggarisbawahi pentingnya perencanaan yang lebih baik dalam menanggapi risiko cuaca ekstrem, terutama saat puncak perjalanan liburan. Maskapai dituntut untuk meningkatkan sistem informasi agar penumpang dapat menerima pembaruan secara real-time.
Solusi untuk Mengatasi Pembatalan Penerbangan di Masa Depan
Menangani situasi pembatalan penerbangan yang meningkat menjadi tanggung jawab bersama antara maskapai dan pemerintah. Dengan berkolaborasi, keduanya dapat menemukan solusi jangka panjang untuk mengurangi dampak cuaca buruk pada operasi penerbangan.
Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah peningkatan infrastruktur bandara dan sistem navigasi. Memodernisasi fasilitas ini dapat membantu mempercepat proses pengaturan lalu lintas udara bahkan dalam kondisi cuaca buruk.
Peningkatan dalam teknologi dan komunikasi juga menjadi penting. Maskapai penerbangan dapat menggunakan sistem berbasis AI untuk memprediksi cuaca ekstrem dan merespons dengan lebih cepat.
Selain itu, program pelatihan untuk karyawan bandara dan pilot dalam menghadapi situasi darurat perlu ditingkatkan. Pengetahuan dan keterampilan yang memadai sangat penting untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan penumpang.
Keberlanjutan juga menjadi isu serius yang harus diperhatikan. Meminimalisir jejak karbon dan menerapkan prinsip penerbangan berkelanjutan akan menjadi langkah penting bagi industri penerbangan di era modern ini.
