Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo baru-baru ini menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kepergian Meriyati Roeslani Hoegeng, yang dikenal sebagai Eyang Meri. Ia adalah istri dari almarhum Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, yang pernah menjabat sebagai Kapolri. Loss ini sangat dirasakan oleh Korps Bhayangkara, yang menganggap Eyang Meri bukan hanya sebagai seorang saksi sejarah, tetapi juga sebagai teladan bagi seluruh anggotanya.
Sigit menegaskan bahwa Eyang Meri telah memberikan inspirasi nyata untuk generasi penerus Polri dan Bhayangkari. Ia berharap agar keluarga yang ditinggalkan selalu diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi masa sulit ini.
Eyang Meri menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa, 3 Februari, di RS Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, di usia 100 tahun setelah menjalani perawatan intensif. Ia dilahirkan pada 23 Juni 1925, dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe.
Warisan dan Peran Eyang Meri dalam Sejarah Polri
Kehadiran Eyang Meri dalam sejarah Polri sangat signifikan. Selama hidupnya, beliau menjadi saksi perjalanan panjang institusi kepolisian di Indonesia. Bukan sekadar istri seorang jenderal, Eyang Meri merupakan bagian penting dalam perjalanan karier suaminya yang dikenal dengan integritas dan komitmen tinggi terhadap penegakan hukum.
Meriyati dan Hoegeng menikah pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta dan dikaruniai tiga anak. Mereka adalah Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti, dan Aditya Soegeng Roeslani, yang semuanya membawa harapan dan kebanggaan tersendiri bagi keluarga dan institusi.
Sepanjang hidupnya, Eyang Meri selalu dikenal sebagai pemimpin keluarga yang kuat dan bijak. Ia tidak hanya mendukung suaminya dalam kariernya, tetapi juga berperan aktif dalam kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat.
Pencapaian Jenderal Hoegeng dan Pengaruhnya Terhadap Polri
Jenderal Hoegeng adalah Kapolri kelima Indonesia yang menjabat sejak 1968 hingga 1971. Di bawah kepemimpinan beliau, Polri dikenal sebagai institusi yang berkomitmen untuk memberantas korupsi dan menjaga integritas. Kebijakan-kebijakan yang diambilnya menjadi landasan bagi pola kerja Polri di masa mendatang.
Sepanjang kariernya, Hoegeng dikenal dengan sikap tegas dan kejujurannya yang menjadi teladan bagi seluruh anggota Polri. Ia juga berupaya keras mengubah citra kepolisian, mendorong nilai-nilai positif di dalam institusi yang seringkali dipandang sebelah mata.
Selama era pemerintahan pertama Presiden Sukarno, Hoegeng dipercaya menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan kemudian diangkat menjadi Menteri Sekretaris Kabinet Inti. Posisi-posisi ini menunjukkan kredibilitas dan kemampuan beliau dalam bidang pemerintahan, termasuk dalam aspek hubungan internasional.
Menghargai Kehidupan dan Warisan Eyang Meri
Kepergian Eyang Meri meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi banyak orang yang mengenalnya. Ia dikenang sebagai sosok yang hangat, penuh perhatian, dan selalu menjadi sumber inspirasi. Dalam tampilan kesederhanaan, Eyang Meri mampu menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi.
Hingga kini, nama Jenderal Hoegeng masih diingat sebagai simbol integritas, sementara Eyang Meri dianggap sebagai pilar kekuatan keluarga dan institusi. Mereka telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam menciptakan masyarakat yang lebih baik dan berintegritas.
Dalam perjalanan hidupnya, Eyang Meri menunjukkan betapa pentingnya peran seorang wanita dalam mendukung suami dan keluarga, sekaligus berkontribusi dalam masyarakat. Ia akan selalu dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Polri.
